akhlak tasauf

BAB  I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Irfan adalah satu di antara di siplin ilmu yng berasal daribidang kebudayaan islam dan dikembangkan untuk mencapai tingkat tinggi dalam pengalaman duniawi. Namun sebelum kita membahas masalah irfan kita seharusnya menyadari bahwa disiplin ilmu tersebut bisa didekati dari dua sudut pandang, yakni sudut pandang sosial dan akademis. Berbeda dengan para ulama darin ilmu lainnya misalnya penafsir ilmu Alquran(mufassirun), ulama Hadis (muhadditsaun), ulama bidang hukum (fuqaha’),teolog( mutakallimun),filosof, sastrawan, danpenyair urafa’ adalah sekelompok ulama yang tidak hanya mengembangkan ilmu pengeahun mereka sendiri (irfan) dan telah menghasilkan banyak ulama besar dan kitab-kitab penting, tetapi juga memberikan semangat kebangkitan dan dunia islam kepada kelompok osial tertentu
            Urafa’ dan sufi tidak dipandang sebagai bentuk sekte yang terpisah didalam islam dan mereka sendiri juga tida mengakui hal itu. Mereka bisa ditemukan dalam setiap mazhab  dan sakte islam, tetapi pada waktu yang sama mereka bersatu membentuk kelompok sosial yang berbeda.
            Sebagai sebuah ilmu pengetahuan disiplin akademis,  irfan sendiri mempunyai dua cabang,praktik dan teori. Aspek praktik dari irfan menjelaskan dan menguraikan hubungan dari tanggung jawab yang di emban manusia kepada dirinya sendiri, kepada alam semesta dan kepada Allah. Di sini irfan sama artinya denagn etika(akhlak), dan keduannya merupakan ilmu praktik. Walaupun demikian irfan dan akhlak mempunyai beberapa perbedaan yang akan kami jelaskan kemudian.



                                                           

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah yang di maksud dengan Ajaran Irfani?
2.      Apa sajakah tujuan dari ajaran Irfani?
3.      Bagaimanakah Sejrah singkat dari Ajaran irfani?
C.     Tujuan
Adapunkami membuat makalah ini dengan tujuan :
1.      Agar pembaca memahami tentang ajaran Ifrani
2.      Agar pembaca mengetahui apa tujuan Irfani
3.      Agar pembaca mengetahu Asal-usulIrfani
4.      Agar pembaca mengetahui sejarah singkat Irfani

D.    Manfaat
1.      Pembaca megetahui apa itu ajaran Irfani
2.      Pembaca mengetahui apa itu tujuan Irfani
3.      Pembac a mengetahui Asal-usul Irfani
4.      Pembaca mengetahui sejarah singkat Irfan
















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Irfani
Irfan teoritis berhubungan dengan otologi(ilmu pengetahuna tentang realitas wujud penerj), serta membahas tentang Tuhan,alam dan manusia. Aspek irfan serupa dengan filsafat teologis (falsafeh ye ilahi), yang juga berusaha menjelaskan wujud. Seperti filsafat teologi,irfan mendasarkan.
Deduksinya pada prinsip-prinsip yang ditemukan melalui pengalaman mistis (kashf) kemudia diubah menjadi bahasa akal untuk menjelaskannya.
Deduksi rasionalistis filsafat bisa disamakan dengan mempelajari sebuah artikel yang asli ditulis di dalam bahasa yang sama; pada sisi yang lain, argumen-argumenirfan adalah seperti mempelajari sesuatu yang telah diterjemahkan dari bahasa lain yang mana argumen-argumen itu pada mulanya di tulis. Untuk lebih tepatnya, arif ingin menjelaskan hal-hal yang dia akui setelah disaksikan  dengan hatinya dan seluruh wujudnya dengan menggunakan bahasa akal.
Ontologi irfan dalam beberapa hal sangat berbeda dengan ontologi filsafat. Dalam pandangan seorang filosof, baik Tuhan maupun benda mempunyai realitas, dengan perbedaan bahwa, jika Tuhan adalah wajib al- Wujud dan ada dengn sendirinya, maka benda-benda selain Tuhan hanyalah sebagai ada, karena sesuatu yang lain(mumkinal wujud) dan merupakan akibat dari wajib al Wujud. Meskipun demikian, ontologi seorang arif tidak ada tempat bagi sesuatu selain Tuhan yang ada di sisi-Nya, sekalipun mereka adalah akibat yang mana Dia sebagai sebabnya;Wujud Ilahi meliputi dan mencakup segala sesuatu. Jadi segala sesuatu adalah nama, kualitas dan manifestasi dari Tuhan,bukan berada di samping Tuhan.

                                               
Tujuan filosof juga berbeda dengan arif. Filosof ingin memahami alam semesta; dia ingin membentuk di dalam pikirannya sebuah gambar yang relatif lengkap dan benar dari eksistensi. Filosof memandang nilai tertinggi kesempurnaan manusia terletak pada mengetahui, melalui akal, sifat sebenarnya dari eksistensi, sehingga makrokosmos mendapatkan refleksi di dalam pikiran filosof itu sementara dia, pada gilirannya, menjadi alam yang sebenarnya.
Ini berarti bahwa filsafat merupakan kajian bagaimana manusia mikrokosmos rasional sama dengan makrokosmos sebenarnya.sebaliknya arif tidak ada urusannya dengan akal  dan pengertian; dia menginginkan untuk mencapai inti realitas eksistensi, yaini Tuhan, menjadi terhubungkan dengannya dan menyaksikannya.
Dalam pandangan seseorang arif,kesempurnaan manusia bukan berarti mempunyai gambaran tentang bidang eksistensi di dalam pikiran manusia; tetapi dengan cara menempuh rangkaian jalan rohani kembali kepada awalnya dari mana manusia itu berasal, untuk mengetahui terpisahnya jarak antara diri seseorang dengan esensi ilahi dan,di dalamsegi kedekatannya, untuk melenyapkan keterbatasan dari diri seseorang  untuk tinggal di dalam kemutlakan Ilahi.
Alat filosof adalah akal,logika dan deduksi,sementara  alat seorang arif adalah hati, usaha,rohani,penyucian dan disiplin diri serta dinamisme batin.







                                               
Tentu saja urafa’ tidak pernah mengaku bahwa mereka di atas dan melebihi islam dan mereka menolak keras akan tuduhan semacam itu.sebenarnya mereka mengaku telah menemukan lebih banyak realitas islam, dengan demikian mereka adalah muslim yang sebenarnya. Baik dalam ajaran praktik irfan maupun teoriny, urafa’ selalu mendukung pandangan mereka dengan refrensi Alquran, sunah Nabi dan para imam dan praktik para sahabat Nabi yang utama.
Walau demikian, orang lain mempunyai pandangan yang berbeda tentang urafa’ di antara mereka ialah:
a.       Kelompok ahli hadis dan ahli fiqih yang mempunyai pandangan bahwa urafa’ secara praktis tidak terkait dengan islam sehingga refrensi mereka kedapa Alquran dan sunah hanyalah muslihat untuk menipu orang-orng yang mempunyai cara berfikir sederhana dan untuk menarik hati kaum muslim kepada mereka. Kelompok ini berpendapat bahwa irfan pada dasarnya tidak punya hubungn dengan islam.
b.      Kelompok modernis yang tidak punya hubungan baik dengan islam dan siap menyambut dengan gegapgampita terhadapa apa saja yang menampakkan kebebasan dari ketaatan yang ditetapkan oleh syariat (ibadah) dan yang bisa diartikan sebagai sebuah gerakan atau bangkitnya masa laulu melewati islam dan hukum-hukumnya. Seperti kelompok pertama ,(kelompok  lain) berpendapat bahwa di dalam praktiknya urafa’ tidak punya keyakinan atau kesetiaan kepada islam, dan bahwa irfan dan tasawuf merupakan sebuah gerakan orang-orang non-Arab yang menentang  Arab dan Islam yang menyamar di balik jubah spiritualitas.




c.       Di samping dua kelompok di atas, ada juga kelompok ketig yang mempunyai pandangan agak netral terhadap irfandan sufisme mengandung banyakbidah dan penyimpangan yang tidak sesuai dengan Alquran dan hadis; dan hal ini lebih jelas di dalam ajaran praktis irfan daripada gagasan-gagasan teoritisnya,terutama di mana dia mengambilsatu aspek sektarian. Tetapi kata mereka, urafa’ seperti ulama islamdari golongan lain dan kebanyakan sekte islam, tidak pernah bekeinginan untuk membuat tuntutan yang bertentangan dengan ajaran islam. Sangat mungkin bahwa mereka membuat kesalahan, seperti model ulama lain teologi, filosof, ulama tafsir, dan fikih juga membuat kesalahan. Tetapi ini bukan karena tujuan jahat kepada islam.[1]
B. Syariat, Tarekat dan Hakikat
            Salah satu hal yang penting dalamperdebatan antara urufa’ dan non-urufa’, terutama fukaha, adalah ajaran-ajaran khusus irfan sehubunggan dengan syariah, tarekat (jalan), dan hakikat (realitas).keduanya setuju mengatakan syariat, pokok hukum islam, berdasarkan atas serangkaian realitas dan tujuan-tujuan menguntungkan. Para ahli fikih pada umumnya menginterprestasikan tujuan-tujuan ini terdiri dari hal-halyang membawa manusia kepada kebahagiaan, yakini kepada tingkatan kemungkinan keuntungan yang paling tinggi dari hadiah material dan spiritual dari Tuhan kepada manusia. Sebaliknya, urafa’ yakin bahwa semua jalan terakhir pada Tuhan dan semua tujuan realitas hanyalah sarana, sebab dan perantara yang mendorong manusia kepada Tuhan.
           

                                                           
Ulama fikih mengatakan bahwa hukum dasar dari syariat merupakan serangkain tujuan yang baik dan tujun-tujun ini merupakan sebab dansemangat syariat,dan hanya satu cara untuk mencapai tujuan ini, (yaitu dengan) bertindak sesuai syariat. Tetapi urafa’ berpendapat bahwa realitas dan tujuan yang mendasari hukum syariat adalah sifat dari stasiun-stasiun dan tahap-tahap pada pendakian manusia menuju Allah di dalam proses jalan masuk manusia kepada realitas terakhir.
            Urafa’ yakin bahwa aspek esoterik (sesuatu yang hanya di ketahui dan dipahamioleh beberapa orang tertentu saja) darihakikat adalah tarekat atau jalan, yang ujungnya adalah realitas atau hakikat, yakni tauhid( denagn pengertian yang telah disinggung sebelumnya), yang merupakan tahapan yang di peroleh setelah kemusnahan diri dan egoisme seorang arif. Jadi gnostik percaya pada tiga hal, syariat adalah sarana atau kulit dari biji hakikat. 
            Tiga cabang ajaran Islam ini adalah saling terpisah.cabang kalam terhubung  dengan pikiran dan akal; cabang akhlak berhubungan dengan diri,kemampuan dan kebiasaan; dan cabang fikih berhubung dengan organ-organ tubuh dan anggota badan.
            Oleh karena itu, tiga cabang ini dikatakan oleh urafa’ sebagai syariat, tarekat dan hakikat. Namun mereka berpedapat bahwa ketiganya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, persis sama dengan manusia tidak bisa dibagi menjadi tiga bagian, yakni tubuh,jiwa dan akal,yang tidaksaling terpisah dan membentuk satu kesatuan yang takdapat dibagiyang mereka merupakan aspek lahir dan batin. Yang satu adalah kulit bagianluar dan lainnya adalah biji bagian dalam, dan yang ketiga adalah isi dari isi itu. Bagaimanapun ada perbedaan di dalamnya bahwa urufa’memandang tahapan-tahapan eksistensi manusia lebih dari tiga; yakni mereka percaya akan satu tahapan yang melebihi daerah kekuasaan akal. Insya Allah,masalah ini akan dijelaskankemudian.[2]
C.    Asal-usul Irfan Islam
Urafa’ sendiri mempertahankan pendapat pertama dari alternatif di atas dan mengakui yang lainnya. Tetapi beberapa orientasi bersikwaras dengan pandangan kedua bahwa irfan adalah gagasan-gagasan halus dan agung yang datng kedunia Islam dari luar. Kadang-kadang mereka berpendapat irfanitu berasal dari kristen dan mengklim bahwa mistikisme didalam Islam merupakan hasil gabungn awal Muslim dan pendeta-pendeta Kristen. Pada waktu yang lain mereka mengaku irfan merupakan hasil dari reaksi bangsa Persia menentang Islan dan Arab. Kadang mereka menyatakan Irfan akibat murni produk dari neo-platonisme, yang disusun  dari gagasan dan ide Plato, Aristoteles  dan Pitagoras, yang di pengaruhi oleh gnotisme Alexandria serta pandangan-pandangan dan keyakinan Judaisme dan Kristen. Kadang mereka juga mengklim Irfan berasal dari agama Buddha.
          Konseparif darijalan rohani (sayr wa suluk) , katamereka jauh melebihi zuhud yang di printahkan Islam.jalanrohani Islam mencakup sejumlah ide an gagasan serta konsep-konsep yang tak ditemukan di dalam kesalehan Islam seperti cinta kepada Allah ,pembinaan dir di dalam Tuhan,dan manifestasi Tuhan.
Dokrit tentang penyatuan mistik yang ditanamkan dengan keagungan Ilahi jauh melampaui apa saja di dalam Alquran,tetapi dinyatakan secara sederhana di dalam hadis-hadis Mabi yang masih diragukan kebenarannya, misalnya Allah berfirman, “ Hambaku mendatangi di malam hari dengan melakukan amalan-amalan sunah, dan aku mencintainya, Aku adalah telinganya sehingga dia mendengardenagn Aku. Dan Aku adalah matanya sehingga dia melihat denagn Aku, dan Akuadalah lidahnyasehingga dia berbicara denagn Aku, dan Aku adalah tangannya sehingga dia mengambildenagn Aku.
          Sebagaimana yang sering dikatakan sebelumnya, disini kami tidak membahas pertnyaan apakah urafa’ telahbe5rhasil secara benar dalammenggunakan inspirasi yang disediakan oleh islam; tujuan kami hanyalah mempertimabngkan  apakah sumber utama inspirasi mereka ada di dalam atau di luar Islam.
D.    Sejarah Singkat Irfan
Sejarah sejati Islam dan kehidupan para pemimpin rohaninya amat kaya akan sepiritualitas dan kemegahan spiritual yang telah melengkapi inspirasi untukspiritual yang mendalamdi dalam dunia Islam, yang tidak tercakupoleh apa yang di sebut irfan atau sufisme. Walau demikian, membahas bagian-bagian lain dari ajaran Islam yang  tidakmelahirkan istilah ini adalah  di luar pembhasan kuliah ini. Kami akan melanjutkan pembahasan kami pada cabang yang berlabel irfan atau sufisme,dan yang jelas, bidang yang terbatas dari kuliah.ini tidak mengizinkan kami memasukirise yang genting. Di sini kami berusaha memberikan garis besar tentang aliran dan peristiwa yamg telah terjadi di dalam cabang ini. Untuk tujuan ini, tampaklah lebih tepat memulai dengan menyajikan sejarah singakt tentang irfan dan sufisme dari awal islam hingga setidaknya abad ke-10H/16 M, sebelum mengarah kepada analisis masalah irfan.   
          Pada  awal islam, sekitar pada awal Hijriah atau ketujuh Masehi, tidak ada kelompok di tengah kaum Muslimyang dikenal sebagai urafa’ atau sufi.istolah sufi pertamakali digunakan pada abad ke-2 H /8M.
          Orang pertama yang disebut denagn istilah sufi ialah Abu Hasyim alKufi. Dia hidup di abad ke-2 H/ 8M. Dialah orang pertama yang membangun sebuah rumah persinggahan musafir di rahlam, palestiana,sebagai tempat untuk ibadah bagi sekelompok petapaMuslim.[3]
          Waktu wafat Abu Hasyim tidak diketahui namun dia adalah guru dari Sufyan Sauri yang wafat pada tahun 161 H/ 777M. Abu Qasim Qusyairi, seorang arif dan sufi terkenal,menyatakan bahwa istilah sufi telah muncul sebelum tahun 200 H/815 M. Nicholson juga menyatakn bahwa istilah itu muncul menjelang akhir abad  ke -2 H.dari sebuah riwayat di dalam kitab Ma’isyah jilid V dari Al Kafi menyebutkan bahwa ada sebuah kelompok Sufyan Sauri dan sejumlah sufi lain pada masa Al Imanm Shidiq as. (yakni selama separuh pertama abad ke-2) yang telah di sebut dalam istilah ini.
           
Jika Abu Hasyim al kufi merupakan orang pertama yang di sebut sufi,karena dia guru Sufyan Sauri yang wafatpada tahun 161 H/777 M, maka istilah ini pertama digunakan pada paruh pertama abad ke-2H, bukan menjelang akhir abad itu ( sebagaimana pendapat Nicholson dan yang lainnya).juga tidak ada kegunanya bahwa alasan bagi istilah Sufyan adalah karena mereka memakai kain wol(sufi=wol).karena asketisme ( paham yang mempraktikan kesederhanaan, kejujuran, dan rela berkorban) mereka, kaum sufi menolak untuk memakai kain indah dan sebagai gantinya mereka memakai pakaian yang terbuat dari kain wol kasar.
Tidak ada informasi yang pasti kapan pertama kali kelompok ini mulai memyebut diri mereka urafa’. Yang pasti, sebagaimna di konfirmasi oleh beberapa peryataan yang dikutip dari Sari Saqati (wafat pada tahun 243 H/ 867 M),istilah tersebut berlaku pada abad ke-3. Namun salah satu kitab rujukan terpercaya dalam Irfan dan sufisme yakni kitab Al Luma’ karya Abu Naser Sarraj Tusi, sebuah frase di kutib dari Sufyan Sauri yang memberikan kesan bahwa istilah inimuncul sekitar abad ke-2.[4]
Yang pasti tidak ada satu pun kelompokyang diketahui sebagai orang-orang sufi selama abad pertama Hijriah. Istilah ini muncul sekitar abad kedua, dan tampaknya pada abad ini juga orang-orang  sufi tampil sebuah kelompok khusus, bukan di abad ke tiga sebagaimana dipercaya oleh sebagian orang.
          Bahkan tak ada kelompok khusus yang ada di abad pertama yang bernama urafa’ atau sufi atau nama-nama lain, hal itu tak berarti bahwa para sahabat Nabi yang terkenal hanyalah orang-orang shaleh dan asketis dan bahwa mereka semua mengarah pada kehidupan dengan keimanan sederhana yang sama sekali tanpa kedalaman rohani. merasa menikmati derajat keimanan yang Abu Dzar tidak akan bisa tahan. Banyak hadisyang sampai kepada kita, misalnya,”jika Abu Dzar tahu apa yang ada di dalam hat Salman, dia sudah membunuhnya ( karena menggangapnya sebagai ahli bidah).[5]

E.     Orang-Orang Arif di Abad Kedua Hijriah/ Kedelapan Masehi
1.      Hasan Basri
Hasan basri wafat ( wafat pada tahun 110 H/728 M dan hidup selama 88 tahun, setelah menghabiskan sembilan persepuluh hiduonya di abad pertama Hijriah.
2.      Malik bi Dinar
Dia adalah seseorang yang menjalani asketisme dan menahan diri dari kesenangan duniawi hingga tingkat ekstrim. Banyak riwayat tentang dia sehubungan denagn hal ini. Dia wafat pada tahun130H/ 747 M.

3.      Ibrahim bin Adham
Cerita tentang ibrahim bin Adham sama denagn cerita tentang Budha.konon Ibrahim adalah penguasa Balka ketika sesuatu terjadi yang membuat dia bertobat dan memasuki jajaran kaum sufi.
     Urufa’ memberikan perhatian yang besar terhadap kaumarif ini, dan sebuah cerita amat menarik disampaikan tentang dirinya di dalam musnawi karya Rumi.dia wafat sekitar tahun 161 H/ 777M.

4.      Rabi’ah Adawiyah
Wanita ini adalah salah satu keajaiban di zamannya ( wafat pada tahun 135 H/ 752 M atau 185 H/ 801 M). Dia bernama Rabiah putri keempat , dia tidak sama denagn Rabi’ah Syamiyah, seorang mistik yang sezaman dengan Jami dan hidup pada abad ke-9 Hijriah atau abad ke- 15 Masehi.
5.      Abu Hasyim as Sufi dari Kufah
Wafatnya beliau tidak diketahui, dia wafat dapa tahun 161 H/ 777 M.



6.      Syaqiq Balkhi
Beliau adalah murid Ibrahim bin Adham.menurut penulis Rayhanat al Adab,dan penulis lain yang di kutib di dalam kitab Kasyful Ghummah karya Ali bin Isa Arbili dan Nuarul Absar tulisan dari Syablanji, dia pernah bertemu Imam Musa bin Ja’far as. Dan meriwayatkan tentang kebesaran stasiun rohani dan kekuatan gaib sang Imam. Saqiq wafat pada tahun 194 H/ 810 M.
7.      Ma’ruf Karkhi
Dia adalah salah satu urafa’ yang termasyur. Konon orang tuanya adalah kristen dan dia memeluk islam di hadapan Imam Ali ar Ridha as. Dan belajar banyak hal dari beliau.
8.      Fudail bin Iyad
Dia berasal dari Merv, dan dia orang Iran keturunan Arab. Dulu dia adalah seorang preman dan suatu malam ketiak ia mempersiapkan diri untuk melakukan perampokan, dia mendengar suara calon korbannya yang sedang membaca Alquran. Hal inilah yang membuat beliau mengalami perubahan.



Orang-Orang Arif da Abad Ketiga Hijriah/Kesembilan Masehi
1.      Abu Yuzid Bistami( Bayazid)
Seorang mistik besar, dan bayazid adalah mistik pertama yang berbicara terbuka terang ‘pelenyapan diri di dalam Allah’ (fana fi Allah) dan ‘hidup abadi bersama Allah’ 9baqa’ bi Allah).    
Dia wafat pada tahun 261 H/ 874 M atau 264 H/ 877 M. Beberapaorang meriwayatkan bahwa ia berkerja sebagai pembawa air di rumah Imam  Ju’far Shadiq as, namun riwayat ini tidak di dukung dengan sejarah karena Abu Yazid tidak sezaman Al-imam.


2.      Bizyir bin Aris Harfi
Seorang sufi terkenal dan dia pernah menjalani kehidupan dalamkejahatan kemudian bertobat . allamah Hilli di dalam kitabnya Minhaj al Karamah meruwayatkan sebuah cerita yang menggambarkan sebuah penyesalan Bisyir di hadapan Imam Musa bin Ja’far. Karena di saat bertobat, dia bertelanjang kaki di jalan sehingga dia dikenal sebagai Al Hafi. Namun orang lain telah memberikan alasan yang berbeda sehubungan dengn julukan Al Hafi. Bisyir Hafi ( lahir di dekat Marv pada tahun 150 H/767 M)wafat pada tahun 226 H/ 840 M atau 227 H/841 M Baghdad.
3.      Sari Sakati   
Sari Sakati adalah seseorang  di antara teman dan sahabat karib Bisyir Hafi. Dia adalah seseorng di antara mereka yang menyebarkan kasih sayang untuk mkhluk Allah dan mementingkan orang laindi atas kepentingn sendiri.
4.      Junaid Baghdad
Dia berasal dari Nahawa  dan urafa' serta orang-orang sufimenjuluki junaid sebagai Sayid Ta’ifah, seperti para ahlli fikih Syiah menjuluki Syekh Tusi sebagai Syekh Ta’ifah.
Junaid tergolong seorang di ntara mistik modren.jenis ungkapan ketika dalamkeadaan ekstrasi yang di ekspresikan sufi-sufi lain tak pernah didengar dari Junaid.                   
5.      Haris Musahibi
Haris adalah teman dari sahabat Junaid. Dia di panggil al Muhasibbih karena ketekunanya yang luar biasa di dalammasalah observasi dan penghitungan diri (muhasabah). Dia sezaman denagn Ahmad bin Hambal yang karena permusuhannya sehubungan denagn ilmu kalam, Ahmad menolak Haris Musabihi mengikuti perdebatan- perdebatan teologi dan tindakan ini membuat masyarakat juga menghindariHaris. Lahir di Basrah pada tahun 165 H/ 781 M dan wafat pada tahun 243 H/ 857 M.
6.      Zun-nun Misr
Orang  Mesir ini adalah siswa di bidang fikih dari seorang fikih terkenal bernama Malik bin Anas.jamilmenyebutnya sebagai pemimpin para sufi. Dialah sufi pertama yang menggunakan bahasa simbolis dan menjelaskan masalah-masalah mistis melalui terminologi simbolis yang hanya orang-orang  tertentu yang memahaminya.
7.      Sahal bin Mansyur Hallj
Di kenal denagn panggilan Al Hallaj dan dia seorang di antara mistik yang paling kontorvesional di dunia Islam. Ungkapannya ketika dalam kondisi ekstansi banyak, dan dia dituduh murtad dan mengaku sebagai Tuhan. Para ahli fikih menyatakan dia sebagai murtad dan di salib pada masa pemerintahan Khalifah Abbasiyah, Al Muqtadir. Kaumurafa’ sendiri menuduh dia telah mengungkapkan rahasi spiritual.
Hafiz berpuisi tentang Al Hajjaj:                               
Dia berkata sahabat yang ada di tiang salib yang tinggi kejahatannya hanya dia sering membuka rahasia. Sebagian orang menganggap AlHajjaj sebagai seorang pemain sihir,namunurafa’ sendiri membebaskan diri dan berkata bahwa peryataan-pernyataan Al Hajjaj dan bayazid yang memberi kesan kekafiran di ungkapkan ketika mereka sedang tak sadar di dalam’kemabukan’ .
                        Al Hajjaj dikenang oleh para urafa’ sebagai seorang syahid. Dia diekskusi pada tahun 309 H/913 M.








F.     Orang-Orang  Arif di Abad keempat Hijjriah /kesepuluh Masehi
1.      Abu Bakar Syibli
Seorang murid dan pengikut setia Junaid Baghdad dan pernah berjumpa denagn Al Hajjaj. Syibil adalah satu di anatara para mistik terkenal. Dia berasal dari Khurasan. Di dalam kitab Raudat al Jannah dan kitab-kitab biografi lainnya, banyak puisi dan Kata-kaa mistis.Syibil wafat pada tahun 334 H/ 846 M pada usia 87 tahun.
2.      Abu Ali Rudbari
Dia keturunan dari Nusyirwan dari dinasti sasaniyah dan dia adalah murid Junaid. Dia belajar fikih dari Abu Abbas bin Syuraih dan kesusastraan dan Sa’lab. Karena ilmunnya mencakup segala bidang,dia di sebut ‘pengumpul hukum, Jalan dan Realitas’(jami al Syariat wa Tariqah wa Haqiqah). Dia wafat pada tahun 322 H/ 934 M.
3.      Abu Naser Sarraj Tusi
Beliau adalah penulis kitab al Luma’, satu di antara kitab refresi terpenting,klasikdan andalan tentang irfan dan sifisme.banyak syekh dari ordo sufi adalh murid Abu Naser baik langsung atau tidak langsung.                
4.      Abu fadel bin Hasan Sarakhsi
Dia adalah murid dan pengikut setia Abu Naser Sarraj dan guru dari Abu Sa’id bin Abi Khair.dia adalah seorang mistikyang sangat termasyhur. Dia wafat pada tahun 400H/1009 M.
5.      Abu Abdulah  Rudbari
Dia adalah putri dari saudara perempuan Abu Ali Rudbari.dia termasuk dari seorang para mistik Dasnmaskus dan Syria.dia wafat pada tahun 369 H/ 979 M.
6.                  Abu Talib Makki
Ketenaran Abu Talib adalah karena kitab-kitab yang tulisnya tentang irfan dan sufisme, di antaranya Qut al Qulub. Kitab ini adalah kitab referensi yang terpenting dan paling awal terpenting irfan. Dia wafat pada tahun 385 M/ 996M. 
G.    Orang-Orang  Arif di Abad kelima  Hijjriah /kesebelas Masehi

1.      Syekh Abu Hasan Khurqain
Seoarang diantara urafa’, dan para Arif meriwayatkan banyak cerita menakjubkan tentang dia. Di antaranya ialah ketika ia ziarah ke makam Bayazid dan bebicara dengan rohnya, mendengarkan nasihat Bayazid dalam menyelesaikan kesulitannya, Dia wafat pada tahun 425H/1033-34 M.
2.      Abu Sa’id  bin Abi Khair
Seorng mistik yang paling terkenal di antara semua mistik adalah  Abu Sa’id bin Abi Khair. Dia juga amat terkenal sebagai seorang di antara mereka kerena suasana soiritualnaya.
Dia di pandang sebagai satu di antara mereka yang menggabungkan dalam dirinya keahlian syariat dan trekat.dia adalah ahli pidato dan komentator Alquran ( musafir). Karena dia sering menangis ketika membaca doa ( munajat) sehingga ia di sebut syekh yangb meratap(syekh nawhahgar). Dia wafat pada tahun 412H / 1021m.
3.      Abu Hasan AlibinUsman Hujwiri
Dia adalah pengarang Kasf al Mahjub. Satu di antara kitab-kitab sufi terkenal dan satu di antara kitab-kitab yang baru-baru ini diterbitkan. Diawafat pada tahun 470H /1077 H.
4.      Khwajah Abdulah Ansari
Seorang dari keturunan Abu Ayun Ansari. Sahabat besar Nabi. Khawajah Abdulah sendiriadalah seorang di antara urafa’ yang paling terkenal dan saleh.
5.      Imam Abu HAmid Muhammad Ghazaalih
Seorang di antara ulama islam yang paling populeritasnya merambah ketimur dan barat. Dia menggabungkan kedalam pribadinya pengetahuan rasioal dan tradisiona.

Orang-Orang Arif diAbad KeenamHijriah /Keduabelas Masehi

1.      Ain Qudat Hamadani
Dia adalah seorang di antaera para sufi yang antusias dan murid Ahmad Ghazzali, adik dari Ahmad Ghazzali,yang juga seorang sufi. Penulis  banyak kitab ini juga mengubah puisi yang berlian yang tidak sama sekali bebas dari seruan teopati ( emosi religus yang timbul dari perenungan Tuhan ) atau syatsiat. Tuduhansebagai ahli bidan ditunjukkan kepadanya, kemudian mengeksekusi dan abunya di atbur di utara.di bunuh sekitar tahun 532-533 H/ 1131-1139 M.
2.      Sana’i Ghaznawi
Seoarng pujaga yang bait-baitnya penuh bermatan sentimen mistik yang dalam. Rumi di dalam mengutip sebagian kata –kata indah Gaznawi yang menjelaskannya.di wafat sekiat abad keenam Hijriah atau ke duabelas Masehi.
3.      Ahmad Jami
Dia terkenal sebagai “zhand pil” dan seoarang di antara urafa’ dan para sufi terkenal.
4.      Abdul KadirnGilani
5.      Syekh Ruzbihani Baqli Syiraz
Orang-orang yang arif pada abad Ke tujuh Hijriah/ ketiga belas masehi
1.      Syekh Najamuddin Kubra
2.      Syekh Fariduddin Attar
3.      Syekh Syihabuddin Suhrawardi
4.      Ibn Farid Misri
5.      Muhyiddin Arabi
6.      Sadraddin Qunawi
7.      Maulana Jalaluddin Muhammad Balkh Rumi
8.      Fakhruddin Iraqi Hamdani
Orang-orang yang arif di abad Kedelapan Hijriah/ Keempat belas Masehi

1.      Ala’adaulah Simnani
2.      Abdul Razzaq Kasyani
3.      Khwajah Hafiz Syirazi
4.      Syek Mahmud Syabistari
5.      Sayyid Haidar Amuli
6.      Abdul Krim Jilani

Orang-orang Yang Arif  di abad kesembilan Hijriah/ Kelimabelas Masehi
1.      Syah Ni’matullah Wali
2.      As’inuddin Ali Tarakeh Isfahami
3.      Muhammad bin Mamzah Fanari Rumi
4.      Samsuddin Muahammad Lahiji Nurbakhsyi
5.      Naruddin Abdul Rahman Jami.[6]












                                                     
BAB III
PENUTUP
            A..Kesipulan
            Sebagaimana telah kita ketahui Irfan teoritis berhubungan dengan otologi(ilmu pengetahuna tentang realitas wujud penerj), serta membahas tentang Tuhan,alam dan manusia. Aspek irfan serupa dengan filsafat teologis (falsafeh ye ilahi), yang juga berusaha menjelaskan wujud
             Tujuan filosof juga berbeda denagn arif. Filsofot ingin memahami alam semesta; dia ingin membuntuk di dalam pikirannya sebuah gambar yang relatif lengkap dan benar dari eksistensi. Filsofot memandang nilai tertinggi kesempurnaan manusia terletak pada mengetahui, melalui akal, sifat sebenarnya dari eksistensi, sehingga makrokosmos mendapatkan refleksi di dalam pikiran filosof itu sementara dia, pada gilirannya, menjadi alamyang sebenarnya.
            Sejarah sejati Islam dan kehidupan para pemimpin rohaninya amat kaya akan sepiritualitas dan kemegahan spiritual yang telah melengkapi inspirasi untukspiritual yang mendalamdi dalam dunia Islam, yang tidak tercakupoleh apa yang di sebut irfan atau sufisme

           



 






                                                           
DAFTAR PUSTAKA
1.      Murtadha Mutahhari, An Introdoction to Ilmu Kalam, di terjemahkan oleh Ali Quli Qarai, Al Tahwid.
2.      Qasim Ghani, Tarikhe Tasawwuf Islam, jakarta: Pustaka Zahra, 2002.
3.      Fariduddin Attar, Tadzkirat Awliya,Jakarta:Zahra,2003.





[1] Murtadha Mutahhari, An Introdoction to Ilmu Kalam, di terjemahkan oleh Ali Quli Qarai, Al Tahwid, Vol. II No 2
[2] Murtadha Mutahhari, An Introdoction to Ilmu Kalam, di terjemahkan oleh Ali Quli Qarai, Al Tahwid, Vol. II No 2
[3] Qasim Ghani, Tarikhe Tasawwuf Islam, jakarta: Pustaka Zahra, 2002.Hlm 19
[4] Fariduddin Attar, Tadzkirat Awliya,Jakarta:Zahra,2003. Hlm 35
[5] Murtadha Muthahhari, Mengenal Tasauf,Jakarta: Zahra, 2002. Hlm 35-36
[6] Murtadha Muthahhari, Mengenal Tasauf,Jakarta: Zahra, 2002. Hlm 37-65
Previous
Next Post »